Renungan Menjelang Hari Raya Qurban . Rasanya baru kemarin merayakan Hari Raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha , kadang disebut juga Lebaran Haji. Kami sekeluarga Shalat sunah Idul Adha, duduk bersimpuh melantunkan takbir dan tahmid di masjid dekat rumah terus melihat penyembelihan hewan Qurban yang tahun kemarin jumlahnya cukup lumayan, 3 ekor sapi dan 45 Kambing di 3 RW khusus komplek Perumahan kami. sekarang prosesi atau ritual itu sebentar lagi akan terulang kembali.
Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak para pembaca untuk menyimak sebuah Renungan Menjelang Hari Raya Qurban 1433 H . Sengaja saya copas dari blog tetangga yang berbicara tentang Qurban dan keikhlasannya. kisah yang sangat menarik untuk kita jadikan bahan renungan tentang pengorbanan seorang anak kepada orang tuanya . Dengan mata berkaca-kaca menahan haru, renungan ini saya share untuk berbagi info dengan sobat lainnya. Selamat menyimak dan mengambil hikmahnya
Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dari penampilannya sepertinya tak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yang itu berapa Pak?”.
“OOh.. Yang itu 700 ribu ” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya Si Ibu “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh atau tidak pak?”, pintanya… Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diambil keputusan untuk diberikan saja dengan harga 500 ribu itu kepada ibu tersebut.
Sayapun mengantar hewan qurban itu sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.
Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal yang sudah lusuh.
Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus dan kering. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat kurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.
Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.
“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu
Melihat fenomena tersebut , kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….
Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada keengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.
Subhanallah … Allahu Akbar Walilahilhamdu .. sungguh mulia bagi orang yang mau berkurban secara tulus dan ikhlas demi orang tuanya…yang bahkan seara syariat keluarga seperti dia tak perlu berkurban malah wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada.
Sampai disini Renungan Menjelang Hari Raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha 1433 H . Teriring doa semoga uwak kami sekeluarga yang sedang melaksanakan ritual ibadah haji tahun ini diberikan kemudahan dalam melaksanankan rukun dan wajib haji sesuai syariat dan kembali ke tanah air dengan predikat haji Mabrur dan hajah Mabrurah.
Allahumma hajjan mabruron, wa sa'yan masykuran,
wa zamban maghfuron, wa tijaratan lan tabuur.
Ya 'alima fishuduur akhrijni minazhulumati ilannuur.Robbana atina fiddunya hasanatan wa fil akhiroti hasanatan wa qina adzaban nar.
wa adhilnaa jannata ma’al abrori yaa ‘aziizu yaa ghoffaru yaa robbal’alamin.subhana robika robil ijati amma yaasifuun wassalaamun alalmursalin
wal hamdulillahi robbil ‘ alamin.
Selamat Hari Raya Idul Adha
Semoga hidupmu dipenuhi kelezatan,
selezat sate kambing di hari raya qurban.
Imanmu dipenuhi ketegaran,
setegar Ismail dan domba sembelihan.
Serta hari-harimu dalam bimbingan,
seperti Ibrahim sang Kekasih Tuhan.
Ya Allah..
Jadikanlah setiap helaan nafas kami sebagai bukti cinta kepada’Mu.
dan pengorbanan kami sebagai bukti kami mendekati’Mu.
Sumber : Saung Web
Read More......

